2016

19 Juni, 2016

Sebuah Revolusi Tragis


(Ilustrasi Jakarta/http://blj.co.id)
Selamat siang Ibukota.


Pandangan liberalis tumbuh subur di wilayah Jakarta ditambah dengan reformasi yang disalah-artikan sebagai kebebasan yang kebablasan. Semua pemikiran kepentingan individualis terus menerus dilantangkan dengan memakai HAM sebagai senjata. HAM sendiri muncul karena adanya rasa ketidak-adilan yang dirasakan kaum minoritas terhadap kaum penguasa. HAM dibuat untuk menyejahterakan semua golongan masyarakat. Namun manusia tetaplah manusia. Reformasi yang didasarkan kepada HAM malah membuat kekacauan Republik Indonesia. Kebebasan menyampaikan pendapat digunakan sebagai provokasi oleh sekelompok masyarakat demi mendapat jabatan maupun ketenaran. Provokasi yang memecah belah kaum Nasionalis, Komunis, dan Islam. Setiap golongan mempunyai ego masing-masing dan merasa paling benar. Padahal dulu dibawah Soekarno ketiga golongan itu menjadi poros penggerak kemerdekaan. Lagi-lagi tumor otak orde baru berhasil menanamkan kebencian terhadap komunis dan memecah belah kembali ketiga poros penggerak kemerdekaan.

Tak terasa telah merantau satu tahun lebih meninggalkan kota kecil diujung utara Jawa Barat yaitu Indramayu. Merantau menuntut ilmu di kota yang sangat didambakan seluruh rakyat pelosok Nusantara tepatnya di DKI Jakarta. Bagaimana tidak? Magnet Ibukota masih sangat kuat menarik orang-orang unggul dari luar Ibukota bahkan dari ujung barat, timur, utara, selatan, barat daya, barat laut, tenggara, timur laut Nusantara hanya demi menjadi penguasa perputaran saham maupun pekerjaan berpenghasilan 'Wah' lainnya. 

Peran perfilman Indonesia yang membuat Jakarta sebagai 'Surga pencetak orang sukses' telah berhasil menanamkan kebodohan yang tiada henti-hentinya. Bahkan terus diturunkan sampai saat ini. Jakarta itu sudah terlalu sumpek dengan pendatang yang bermodal nekat. Haruskah Jakarta terus bertambah populasinya dengan orang-orang luar Jakarta yang ingin bekerja serabutan? Peran Mantan Presiden Kedua Republik Indonesia tentang sentralisasi pulau jawa masih kental dirasakan. Apalagi didukung dengan Film Televisi maupun Sinetron yang luar biasa tidak mendidik yang terus menerus menayangkan bahwa kehidupan Jakarta sangat penuh hingar bingar yang menggoda. Di Jakarta, semua orang bisa menjadi apa saja, ya apa saja. Mulai dari pejabat berdasi otak busuk sampai pengemis compang-camping karena menyerah akan kehidupannya di Jakarta. Entah apa yang dikejar manusia milenium di Jakarta? Kekayaan? Pasangan? Jabatan? Kehidupan layak? Dasar pecinta dunia. 

Mencari kehidupan layak? Sebelum mencari hal tersebut apa sih kehidupan layak yang diinginkan orang? Hidup sederhana dengan rumah tiga serta istri empat? Apasih kehidupan yang layak? Pertanyaan dasar individu yang mungkin jarang yang bisa menjawab dengan spesifik. Pada dasarnya, manusia ditakdirkan menjadi makhluk serakah. Tidak ada yang mau berpuas diri setelah mendapat kehidupan yang sederhana. Semua akan minta lebih dan lebih. Manusia itu makhluk serakah. Tidak merasa cukup sampai mampus. Pengendalian emosi sangat dibutuhkan para penggiat dunia, dan bisa diimbangi dengan keyakinan beragama.

Pembangunan ekonomi yang tidak merata terus diperbaiki di era reformasi, tapi menghilangkan tumor otak dari pemimpin yang 32 tahun berkuasa tidaklah mudah. Hal ini membuat para ahli di Indonesia enggan ketika ditugaskan ke pelosok Nusantara. Mirisnya, alasan untuk tidak ingin dipindah tugaskan karena masalah keluarga. Ya, keluarga pulau jawa beranggapan bahwa penugasan seseorang diluar Jakarta atau pulau Jawa akan mendapat gaji kecil. Manusia memang makhluk serakah. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi di pelosok-pelosok Nusantara tidak akan terlaksana sampai kapan pun. Lingkaran keserakahan terus berputar dalam kepala manusia dan diturunkan kepada anak-anak yang masih tidak tahu bagaimana kejamnya kehidupan. Anak-anak pun menjadi korban.